Konstruksi Sarang
Laba-Laba adalah konstruksi sub struktur yang ditemukan oleh, Ir. Ryantori dan
(Alm) Ir. Sutjipto dan sekarang pemegang patennya adalah PT. Katama Suryabumi
yang telah dikembangkan sejak tahun 1976 . Filosofi konstruksi sarang laba-laba
merupakan konstruksi pondasi dangkal yang kaku, kokoh, menyeluruh tetapi
ekonomis dan ramah gempa. Konstruksi ini dirancang untuk mampu mengikuti arah
gempa baik horisontal maupun vertikal karena menggunakan media tanah sebagai
bagian dari struktur pondasi. Konstruksi pondasi bangunan berupa beton
bertulang menyerupai sarang laba-laba (KSLL) dan tanah yang dipadatkan adalaha
sistem pondasi pertama di dunia yang mampu memaksa tanah berfungsi sebagai struktur.
Pondasi KSLL merupakan kombinasi konstruksi bangunan
bawah konvensional yang merupakan perpaduan pondasi plat beton pipih menerus
yang di bawahnya dikakukan oleh rib-rib tegak yang pipih tinggi dan sistem
perbaikan tanah di antara rib-rib. Kombinasi ini menghasilkan kerja sama timbal
balik yang saling menguntungkan sehingga membentuk sebuah pondasi yang memiliki
kekakuan (rigidity) jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pondasi
dangkal lainnya. Dinamakan sarang laba-laba karena pembesian plat pondasi di
daerah kolom selalu berbentuk sarang laba-laba. Juga bentuk jaringannya yang
tarik-menarik bersifat monolit yaitu berada dalam satu kesatuan. Ini disebabkan
plat konstruksi didesain untuk multi fungsi, untuk septic tank, bak reservoir,
lantai, pondasi tangga, kolom praktis dan dinding. Rib (tulang iga) KSLL
berfungsi sebagai penyebar tegangan atau gaya-gaya yang bekerja pada kolom.
Pasir pengisi dan tanah dipadatkan berfungsi untuk menjepit rib-rib konstruksi
terhadap lipatan puntir.
Sesuai dengan definisinya, maka Konstruksi Sarang
Laba-Laba terdiri dari 2 bagian konstruksi, yaitu :
1. Konstruksi beton
a.
Konstruksi beton pondasi KSLL berupa pelat pipih menerus yang dibawahnya dikakukan
oleh rib-rib tegak yang pipih tetapi tinggi.
b.
Ditinjau dari segi fungsinya, rib-rib tersebut ada 3 macam yaitu rib
konstruksi, rib settlement dan rib pengaku.
c.
Bentuknya bisa digambarkan sebagai kotak raksasa yang terbalik (menghadap kebawah).
d. Penempatan / susunan rib-rib tersebut
sedemikian rupa, sehingga denah atas membentuk petak-petak segitiga dengan
hubungan yang kaku (rigid).
2.
Perbaikan tanah / pasir
a.
Rongga yang ada diantara rib-rib / di bawah pelat diisi dengan lapisan
tanah / pasir yang memungkinkan untuk dipadatkan dengan sempurna.
b. Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka
pemadatan dilaksanakan lapis demi lapis dengan tebal tiap lapis tidak lebih
dari 20 cm, sedangkan pada umumnya 2 atau 3 lapis teratas harus melampaui batas
90% atau 95% kepadatan maksimum (Standart Proctor). Adanya perbaikan
tanah yang dipadatkan dengan baik tersebut dapat membentuk lapisan tanah
seperti lapisan batu karang sehingga bisa memperkecil dimensi pelat serta
rib-ribnya. Sedangkan rib-rib serta pelat KSLL merupakan pelindung bagi
perbaikan tanah yang sudah dipadatkan dengan baik.
Berikut
penerapan struktur dan pondasi sarang laba-laba pada sebuah bangunan gedung.
1. Tahap
Perencanaan : struktur gedung didesain hingga diketahui gaya kolom
yang harus dipikul pondasi. Selanjutnya dilakukan perhitungan settlement
sebagai kinerja struktur agar dapat diantisipasi. Dengan gaya yang bekerja,
pondasi KSLL didesain supaya didapat dimensi pelat, jarak dan tebal rib,
serta detail penulangannya.
2. Tahap
Pelaksanaan : dilakukan pekerjaan persiapan yang bertujuan
menghasilkan permukaan tanah dengan elevasi yang sudah direncanakan. Kemudian
dilakukan pembetonan rib yang dapat dilaksanakan dengan metode cor di
tempat (in situ) atau pracetak.
3. Tahap Finishing : setelah rib
terpasang, rongga antara rib diisi dengan tanah timbunan dan pasir, lalu
dipadatkan dan pelat beton dicor di atasnya, sehingga dihasilkan pondasi KSLL
Pada dasarnya pondasi KSLL bertujuan untuk memperkaku
sistem pondasi itu sendiri dengan cara berinteraksi dengan tanah pendukungnya.
Seperti diketahui bahwa jika pondasi semakin fleksibel, maka distribusi
tegangan / stress tanah yang timbul akan semakin tidak merata, terjadi
konsentrasi tegangan pada daerah beban terpusat. Dan sebaliknya, jika pondasi
semakin kaku / rigid, maka distribusi tegangan / stress tanah akan semakin
merata. Hal ini mempengaruhi kekuatan pondasi dalam hal penurunan yang dialami
pondasi.
Dengan pondasi KSLL, karena mempunyai tingkat kekakuan
yang lebih tinggi, maka penurunan yang terjadi akan merata karena masing-masing
kolom dijepit dengan rib-rib beton yang saling mengunci. Menurut Lokakarya yang
diadakan di Bandung pada pertengahan tahun 2004
oleh
Puslitbang Depkimpraswil yang dihadiri oleh para pakar gempa dan tanah, disimpulkan
kelebihan-kelebihan pondasi KSLL adalah sebagai berikut :
1.
KSLL memiliki kekakuan yang lebih baik dengan penggunaan bahan bangunan
yang hemat dibandingkan dengan pondasi rakit (raft foundation).
2.
KSLL memiliki kemampuan memperkecil differential settlement dan
mengurangi irregular differential settlement apabila dibandingkan dengan
pondasi rakit.
3.
KSLL mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi karena proses
pemadatannya akan meniadakan pengaruh lipat atau lateral buckling pada
rib.
4.
KSLL berpotensi untuk digunakan sebagai pondasi untuk bangunan bertingkat rendah
(2 lantai) yang dibangun di atas tanah lunak dengan mempertimbangkan total
settlement yang mungkin terjadi.
5.
Pelaksanaannya tidak menggunakan alat-alat berat dan tidak mengganggu lingkungan
sehingga cocok diterapkan baik di lokasi padat penduduk maupun di daerah
terpencil.
6.
KSLL mampu menghemat pengunaan baja tulangan maupun beton
7.
Waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif lebih cepat dan dapat
dilaksanakan secara padat karya.
8.
KSLL lebih ekonomis dibandingkan pondasi konvensional rakit atau tiang
pancang, lebih-lebih dengan pondasi dalam, sehingga cocok digunakan oleh
negara-negara sedang berkembang sebab murah, padat karya dan sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar